iklan. Jangan klik hahaha...

Sunday, 19 February 2012

Tiada Gangguan Lagi Kerana....

Terkhilaf menyakiti orang lain dengan apa-apa cara, sms, emel, komen di blog Syurga bukan tempat anda..
aku kopi pasta dari blog jiran.

Menahan diri dari perbuatan jahat terhadap orang lain, betapa pun merupakan sesuatu yang terkesan pasif dan bukan suatu tindakan aktif, memiliki pahala dan keutamaan yang besar sehingga mampu mengantarkan pelakunya kedalam surga.

Ditanyakan: “Bagaimana pendapat engkau jika ia seorang yang lemah dan tidak mampu menolong orang yang terzalimi?” Beliau bersabda, “Kamu tidak ingin meninggalkan sedikitpun kebaikan pada diri temanmu. Hendaknya ia menahan diri dari tindakan jahat terhadap orang lain.”

Menahan diri agar tidak mengganggu orang lain jelas lebih ringan dari bersedekah susu karena sama sekali tidak membutuhkan dana atau tenaga sedikitpun. Kendati ringan, amalan ini dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga karena setelah menjelaskan tentang amalan ini Rasul SAW. Menegaskan, “Tidak ada seorang Muslim yang melakukan suatu amalan dari amalan-amalan diatas, melainkan amalan itu akan membimbing tangannya sampai berhasil memasukkannya kedalam surga”
(H.r. Thabrani, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Menahan diri dari perbuatan jahat terhadap orang lain, betapapun merupakan sesuatu yang terkesan pasif dan bukan suatu tindakan aktif, memiliki pahala dan keutamaan yang besar sehingga mampu mengantarkan pelakunya kedalam surga. Diantara keutamaannya adalah sebagai berikut:

Pertama, menahan diri dari tindakan mengganggu orang lain adalah bentuk keislaman yang paling utama, sehingga wajar dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga. Rasul SAW bersabda:

“Islam yang paling utama adalah apabila kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tanganmu” (H.r. Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban).

Kedua, menahan diri dari tindakan mengganggu orang lain adalah sedekah untuk diri sendiri, sedangkan sedekah pahalanya adalah surga. Rasul SAW bersabda:

“Hendaknya kamu menahan diri dari tindak kejahatan, karena sesungguhnya hal itu adalah sedekah yang kamu sedekahkan pada dirmu sendiri” (H.r. Ahmad).

Ketiga, suka mengganggu orang lain, terutama para tetangga adalah tindakan yang mengantarkan pelakunya kedalam neraka. Ini berarti menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga. Rasul SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya” (H.r. Muslim).

Menahan diri dari tindakan jahat terhadap orang lain memiliki banyak bentuk:

Menahan tangan agar jangan sampai menyakiti orang lain. Rasul SAW bersabda:

“Seorang Muslim adalah orang yang apabila kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Tindak kejahatan dengan tangan ini sering kali disebabkan oleh dua hal.

a. Dorongan amarah sehingga ia melampiaskannya dengan melakukan pukulan. Rasul SAW bersabda:

“Janganlah kamu memukul hamba-hamba wanita Allah. Sungguh telah banyak kaum wanita yang mendatangi keluarga Muhammad SAW untuk mengadukan para suami mereka. Sungguh orang-orang (yang memukul para istri) bukanlah orang-orang yang terbaik diantara kalian” (H.r. ad-Darimi).

b. Dorongan syahwat sehingga ia melampiaskannya dengan melakukan sentuhan syahwati terhadap wanita atau lelaki yang tidak halal baginya. Ibnu Abbas r.a. menuturkan:

Ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seorang istri yang tidak menolak ketika disentuh oleh lelaki yang menyentuhnya.” Beliau bersabda, “Ceraikanlah ia.” Ia menjawab, “Aku tidak bisa menahan diri untuk bermesraan dengannya.” Beliau bersabda, “kalau begitu pertahankanlah (tidak dicerai) ia” (H.r. an-Nasa’i).

Sentuhan ini merupakan tindakan yang haram dan harus dihindarkan. Rasul SAW bersabda:

“Seandainya salah seorang diantara kamu ditusuk palanyadengan jarum dari besi, niscaya hal itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (H.r. Thabrani).

Menahan lisan agar jangan sampai menyakiti orang lain.

Seorang Muslim hendaknya menahan lisannya jangan sampai menyakiti orang lain. Diantara bentuk-bentuk gangguan lisan yang harus dihindarkan adalah:

a. Melaknat dan mengutuk seorang Muslim. Rasul SAW bersabda:

“Janganlah kamu saling mengutuk dan laknat Allah, murka-Nya dan api neraka” (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi).

b. Mencela, menghina dan mengolok-olok sesama Muslim. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)” (Q.s. al-Hujurat 49:11).

Rasul SAW bersabda:

“Mencela seorang Muslim adalah tindak kefasikan, dan membunuhnya adalah tindak kekufuran” (H.r. Bukhari dan Muslim).

c. Menggunjing dan membicarakan keburukannya. Allah Ta’ala berfirman:

“…Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang” (Q.s. al-Hujurat 49: 12).

Rasul SAW bersabda:

“Wahai segenap orang yang beriman dengan lisannya sedang iman belum merasuk dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan janganlah menyingkap aib mereka. Sebab, barangsiapa menelusuri aib mereka, maka Allah akan menelusuri aibnya, dan barangsiapa yang aibnya ditelusuri oleh Allah, maka aibnya akan terbongkar meski ia bersembunyi di rumahnya” (H.r. Tirmidzi).

d. Menghardik dan membentak-bentak seorang Muslim. Allah Ta’ala berfirman:

“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya”
(Q.s. adh-Dhuha 93: 9-10).

e. Memanggil seorang Muslim dengan panggilan yang buruk, Allah Ta’ala berfirman:

“… Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Q.s. al-Hujarat 49: 11)

f. Melontarkan prasangka dan tuduhan terhadap sesama Muslim.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…”. (Q.s. al-hujarat 49: 12).

Rasul SAW bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (H.r. Bukhari).

Menahan diri dari sikap dan tindakan yang menyakiti orang lain. Seorang Muslim hendaknya menahan diri dari sikap dan tindakan yang menyinggung perasaan dan menyakiti hati orang lain, di antaranya adalah:

a. Sikap benci, iri dan dengki.

Rasul SAW bersabda:

“Janganlah kamu saling membenci, saling dengki, dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi sorang Muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari” (H.r. Bukhari).

b. Sikap angkuh dan sombong terhadap orang lain dengan menolak kebenaran yang datang darinya dan melecehkannya.

Sikap ini sangat menyakitkan orang lain sehingga kita harus meninggalkannya. Rasul SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari kesombongan. Seorang sahabat bertanya, ‘Sesungguhnya ada seorang yang ingin agar bajunya bagus dan sandalnya bagus, apakah ini termasuk kesombongan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah penolakan terhadap kebenaran dan pelecehan terhadap orang lain’ (H.r. Muslim).

c. Sikap apatis dan tidak peduli terhadap orang lain.

Sikap ini juga menyakitkan orang lain, sehingga kita harus meninggalkannya, dan berusaha untuk selalu peduli dengan saudara sesama Muslim. Rasul SAW bersabda:

“Barangsiapa di pagi hari tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka” (H.r. Thabrani dan al-Hakim; disahihkan oleh as-Suyuthi).

(sumber: Amalan-amalan Ringan Pembuka Pintu Surga. Pengarang : Fakhruddin Nursyam, Lc. Penerbit : Uswah [Kelompok Pro U Media]. Yogyakarta, 2009)

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...